Monday, March 24, 2008

Komentar Ayu Utami Tentang Ayat-Ayat Cinta

Jakarta - Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.

Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.

Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.

Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal 'Saman' ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:


Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?

Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.

Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?

Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.

Setelah membaca, apa kritik anda?

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.

Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.

Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.

Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?

Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kimpoi lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.

Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.

Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?

Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kimpoi lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.

Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?

Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.

Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.

Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.

Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?

Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.

Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .

Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.

Soal poligami, bagaimana pandangan anda?

Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.

Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?

Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.

Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/23/time/123250/idnews/911733/idkanal/10

Orang Bodoh vs Orang Pintar

Humor Orang bodoh VS orang pintar

1. Orang bodoh sulit dapat kerja,
akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu
dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang
pintar adalah orang bodoh.


2. Orang bodoh sering melakukan
kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak
pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil
orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk
keperluan orang bodoh.


3. Orang pintar belajar untuk
mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan
kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan
uang untuk membayari proposal yang diajukan orang
pintar.


4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks
pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.


5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk
lulus sekolah hukum (SH). oleh karena itu orang
bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat
undang-undangnya orang bodoh.


6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap
jual omongan, sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah
mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang
bodoh sudah ada di atas.


7. Orang bodoh berpikir pendek untuk
memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang
oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar
menjadi staffnya orang bodoh.


8. Saat bisnis orang bodoh mengalami
kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang
pintar "meratap-ratap" kepada orang bodoh agar tetap
di berikan pekerjaan.


9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju,
orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja
keras dengan hati senang, sementara orang bodoh
menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan
keluarganya.


10. Mata orang bodoh selalu mencari apa
yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu
mencari kolom lowongan perkerjaan.


11. Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri
(Ford), Thomas Alfa Edison, Liem Siu Liong (BCA
group) adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat
S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja
untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang
pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN:

1. Mending jadi orang pinter atau orang bodoh?


2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?


3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh?


4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh?


KESIMPULAN:

1. Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi
oleh orang bodoh.


2. Jadilah Orang bodoh yang pinter dari
pada jadi orang pinter yang bodoh.


3. Kata kunci nya adalah "resiko" dan
"berusaha", karena orang bodoh perpikir pendek maka
dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha
agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter perpikir
panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko
tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh.

Sunday, March 23, 2008

communicatio style

Take this test!
Diplomats tend to be cooperative partners with first-rate listening and negotiation skills. Above all, they seem to try to keep the lines of communication open between themselves and their significant other. They feel it's far better to talk about problems as they arise rather than sweep them under the rug.

Boss Vs Karyawan

Bila BOSS tetap pada pendapatnya, itu berarti beliau konsisten.
Bila Staff tetap pada pendapatnya, itu berarti dia keras kepala !

Bila BOSS berubah-ubah pendapat, itu berarti beliau flexible.
Bila Staff berubah-ubah pendapat, itu berarti dia plin-plan !

Bila BOSS bekerja lambat, itu berarti beliau teliti.
Bila Staff bekerja lambat, itu berarti dia tidak perform !

Bila BOSS bekerja cepat, itu berarti beliau smart.
Bila Staff bekerja cepat, itu berarti dia terburu-buru !

Bila BOSS lambat memutuskan, itu berarti beliau hati-hati.
Bila Staff lambat memutuskan, itu berarti dia 'telmi' !

Bila BOSS mengambil keputusan cepat, itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila Staff mengambil keputusan cepat, itu berarti dia gegabah !

Bila BOSS terlalu berani ambil resiko, itu berarti beliau risk-taking.
Bila Staff terlalu berani ambil resiko, itu berarti dia sembrono !

Bila BOSS tidak berani ambil resiko, itu berarti beliau prudent.
Bila Staff tidak berani ambil resiko, itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila BOSS mem-by-pass prosedur, itu berarti beliau proaktif-inovatif.
Bila Staff mem-by-pass prosedur, itu berarti dia melanggar aturan !

Bila BOSS curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti beliau waspada.
Bila Staff curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti dia negative thinking !

Bila BOSS menyatakan : Sulit itu berarti beliau prediktif-antisipatif.
Bila Staff menyatakan : Sulit itu berarti dia pesimistik !

Bila BOSS menyatakan : Mudah" itu berarti beliau optimis.
Bila Staff menyatakan : Mudah" itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila BOSS sering keluar kantor, itu berarti beliau rajin ke customer
Bila Staff sering keluar kantor, itu berarti dia sering kelayapan !

Bila BOSS sering entertainment, itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila Staff sering entertainment, itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila BOSS tidak pernah entertainment, itu berarti beliau berhemat.
Bila Staff tidak pernah entertainment, itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !

Bila BOSS men-service atasan, itu berarti beliau me-lobby.
Bila Staff men-service atasan, itu berarti dia menjilat !

Bila BOSS sering tidak masuk, itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila Staff sering tidak masuk, itu berarti dia pemalas !

Bila BOSS minta fasilitas mewah, itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila Staff minta fasilitas standar, itu berarti dia banyak menuntut ! dan . . . . . . . . . . (masih banyak lagi).

Bila BOSS membuat tulisan seperti ini, itu berarti beliau humoris.
Bila Staff membuat tulisan seperti ini, itu berarti dia: frustasi, iri terhadap karir orang lain, negative thinking, provokasi tidak tahan banting, barisan sakit hati, berpolitik di kantor, tidak produktif, tidak sesuai dengan budaya perusahaan dan masih banyak lagi...........